Para Shahabat Yang Mulia

Juli 25, 2009

[font=traditional arabic][size=+3][right]قاَلَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُو نَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْrعَنْ عَبْدِ الله عَنِ النَّبِىَّ[/right][/font][/size]

Dari Abdullah, dari Nabi r, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian generasi sesudah mereka (tabi’in) kemudian generasi sesudah mereka (tabi’ut tabi’in). (HR. Bukhari Muslim)

Dalam urutan manusia terbaik, sudah barang tentu shahabatlah urutan pertamanya. Tentu saja setelah para Nabi dan Rasul. Sebab, para shahabatlah manusia pilihan Allah untuk menjadi lingkaran pertama rantai penyampai risalah ini. Jelas bukan suatu kebetulan ketika Allah mengutus Nabi pembawa syari’at yang sempurna ini di antara orang-orang seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali, Khadijah, Abdurrahman bin Auf dan lainnya.

Keutamaan ini menjadi sumbu pemijar keutamaan-keutamaan berikutnya. Diantaranya ; jaminan masuk surga, pujian dari Allah dalam al Qur’an, pahala dari orang yang mengamalkan ilmu yang mereka tularkan hingga saat ini, dan masih banyak lagi. Dengan itulah mereka menjadi manusia, bahkan generasi terbaik yang pernah ada.

Iklan

Membongkar Kedok Jamaah Tabligh

Agustus 7, 2008

Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai ‘biang pemecah belah umat’, membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.

Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; “Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun,
ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh. Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah
hakikat jamaah yang berkiblat ke India ini? Kajian kali ini adalah jawabannya.

~~~ Pendiri Jamaah Tabligh ~~~

Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yang berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma’il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli (New Delhi), ibukota India. Di tempat dan negara inilah, markas gerakan Jamaah Tabligh berada. Adapun AdDiyubandi adalah nisbat dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu¡¦inuddin Al-Jisyti.
Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H. (Bis Bri Musliman, hal.583, Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 144-146, dinukil dari
Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).

~~~ Latar Belakang Berdirinya Jamaah Tabligh ~~~

Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan, “Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-
orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut.” (Nazhrah ‘Abirah i’tibariyyah Haulal Jama’ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama’atut Tabligh Aqa¡¦iduha
Wa Ta’rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19) Merupakan suatu hal yang ma¡¦ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh, red) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah SAW (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 3).

~~~ Markas Jamaah Tabligh ~~~

Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh). Yang menarik, pada markas-markas mereka yang berada di daratan India itu, terdapat hizb (rajah) yang berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas, nama Allah yang agung, dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dalam bentuk segi empat, yang dikelilingi beberapa kode yang tidak dimengerti. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 14) Yang lebih mengenaskan, mereka mempunyai sebuah masjid di kota Delhi
yang dijadikan markas oleh mereka, di mana di belakangnya terdapat empat buah kuburan. Dan ini menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani, di mana mereka menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagai masjid. Padahal Rasulullah SAW melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, bahkan mengkhabarkan bahwasanya mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah Ta’ala. (Lihat Al-Qaulul Baligh Fit Tahdziri Min Jama¡¦atit Tabligh, karya Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri, hal. 12)

~~~ Asas dan Landasan Jamaah Tabligh ~~~

Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat teguh mereka pegang, bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-
shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagai berikut:

Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan : “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan”. Kebanyakan pembicaraan mereka tentang tauhid, hanya berkisar pada
tauhid rububiyyah semata (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu AnTushahhah, hal. 4).

Padahal makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulamaadalah : “Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.” (Lihat Fathul Majid, karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hal. 52-55). Adapun makna merealisasikannya adalah merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah, ar-rububiyyah, dan al-asma wash shifat (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-‘Adnani, hal. 10). Dan juga sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan : “Merealisasikan tauhid artinya membersihkan dan memurnikan tauhid (dengan tiga jenisnya, pen) dari kesyirikan, bid’ah, dan kemaksiatan.” (Fathul Majid, hal. 75). Oleh karena itu, Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara ‘keistimewaan’ Jamaah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan tauhid. Namun tauhid mereka tidak lebih dari tauhidnya kaum musyrikin Quraisy Makkah, di mana perkataan mereka dalam hal tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah saja, serta kental dengan warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun tauhid uluhiyyah dan ibadah, mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dalam hal ini, mereka termasuk golongan orang-orang musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat, mereka berada dalam lingkaran Asya’irah serta Maturidiyyah, dan kepada Maturidiyyah mereka lebih dekat”. (Nazhrah ‘Abirah I’tibariyyah Haulal Jamaah At-Tablighiyyah, hal. 46).

Sifat Kedua: Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri
Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata : “Demikianlah perhatian mereka kepada shalat dan kekhusyukannya. Akan tetapi, di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya, sunnah-
sunnahnya, hukum sujud sahwi, dan perkara fiqih lainnya yang berhubungan dengan shalat dan thaharah. Seorang tablighi (pengikut Jamaah Tabligh, red) tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari mereka.” (Jama¡¦atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 5- 6).

Sifat ketiga: Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir
Mereka membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu masail, menurut mereka, adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang
dipelajari pada ritus khuruj (lihat penjelasan di bawah, red) dan pada majlis-majlis tabligh. Jadi, yang mereka maksudkan dengan ilmu adalah sebagian dari fadhail amal (amalan-amalan utama, pen) serta dasar-
dasar pedoman Jamaah (secara umum), seperti sifat yang enam dan yang sejenisnya, dan hampir-hampir tidak ada lagi selain itu. Orang-orang yang bergaul dengan mereka tidak bisa memungkiri tentang
keengganan mereka untuk menimba ilmu agama dari para ulama, serta tentang minimnya mereka dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha untuk menghalangi orang-orang yang cinta akan ilmu, dan berusaha menjauhkan mereka dari buku-buku agama dan para ulamanya. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 6 dengan ringkas).

Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim
Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dalam merealisasikan sifat keempat ini, khususnya dalam masalah al-wala (kecintaan) dan al-bara (kebencian). Demikian pula perilaku
mereka yang bertentangan dengan kandungan sifat keempat ini di mana mereka memusuhi orang-orang yang menasehati mereka atau yang berpisah dari mereka dikarenakan beda pemahaman, walaupun orang tersebut ‘alim rabbani. Memang, hal ini tidak terjadi pada semua tablighiyyin, tapi inilah yang disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 8)

Sifat Kelima: Memperbaiki Niat
Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya. Akan tetapi semuanya membutuhkan ilmu. Dikarenakan Jamaah Tabligh adalah orang-orang yang minim ilmu agama, maka banyak pula kesalahan mereka dalam merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karenanya engkau dapati mereka biasa shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)

Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah subhanahu wata’ala
Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah, pen) bersama Jamaah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali
berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta¡¦lim setiap hari,
majelis ta¡¦lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah. Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi,
membaca satu juz Al Qur¡¦an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jamaah yang khuruj, serta i’tikaf pada setiap malam Jum’at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah (ala mereka, pen) yang disampaikan oleh salah seorang anggota jamaah yang berpengalaman dalam hal khuruj. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)
Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata : “Khuruj di jalan Allah adalah khuruj untuk berperang. Adapun apa yang sekarang ini mereka (Jamaah Tabligh, pen) sebut dengan khuruj maka ini bid¡¦ah.
Belum pernah ada (contoh) dari salaf tentang keluarnya seseorang untuk berdakwah di jalan Allah yang harus dibatasi dengan hari-hari tertentu. Bahkan hendaknya berdakwah sesuai dengan kemampuannya tanpa dibatasi dengan jamaah tertentu, atau dibatasi 40 hari, atau lebih sedikit atau lebih banyak.” (Aqwal Ulama As-Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 7)

Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi berkata: ¡§Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah, tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur¡¦an dan As Sunnah, akan tetapi berdakwah kepada (pemahaman) Muhammad Ilyas, syaikh mereka yang ada di Banglades (maksudnya India, pen). (Aqwal Ulama As Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 6)

~~~ AQIDAH Jamaah Tabligh dan Para Tokohnya ~~~

Jamaah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam hal aqidah1. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail A’mal karya Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh dengan kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dalam masalah aqidah adalah2 :
1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (bahwa Allah menyatu dengan alam ini). (Lihat kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu Bazar, Lahore).
2. Sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih dan keyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib. (Lihat Fadhail A¡¦mal, bab Fadhail Dzikir, hal. 468-469, dan hal. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta berlebihannya mereka dalam hal ini. (Lihat Fadhail A’mal, bab Shalat, hal. 345, dan juga bab Fadhail Dzikir, hal. 481-482, cet.
Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni (lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Qur¡¦an, hal. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin. (Lihat Fadhail A’mal, bab Dzikir, hal. 540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi (lihat Shaqalatil Qulub, hal. 190). Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang pendiri Jamaah Tabligh telah
membai¡¦atnya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H, bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata untuk melihat wajah syaikhnya tersebut. (Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 143, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).
7. Saling berbai’at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Sahruwardiyyah. (Ad-Da’wah fi Jaziratil ‘Arab, karya Asy-Syaikh Sa¡¦ad Al-Hushain, hal.
9-10, dinukil dari Jama¡¦atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal.12).
8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau untuk berjabat tangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i. (Fadhail A’mal, bab Fadhail Ash-Shalati ‘alan Nabi,
hal. 19, cet. Idarah Isya’at Diyanat Anarkli, Lahore).
9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan permusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang sejauh-jauhnya dari manhaj Jamaah. (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 10).
10. Keharusan untuk bertaqlid (lihat Dzikir Wa I’tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, hal. 94, dinukil dari Jama’atut Tabligh ‘Aqaiduha wa Ta’rifuha, hal. 70).
11. Banyaknya cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dalam kitab Fadhail A’mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan Janahi dalam kitabnya Jama¡¦atut Tabligh Mafahim
Yajibu An Tushahhah, hal. 46-47 dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yang mereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah. Wallahul Musta’an.

~~~ FATWA Para Ulama Tentang Jamaah Tabligh ~~~

1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata : “Siapa saja yang berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: (Sampaikan apa yang datang dariku (Rasulullah), walaupun
hanya satu ayat), akan tetapi Jamaah Tabligh India yang ma’ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat, bid’ah dan kesyirikan. Maka dari itu, tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang yang
berilmu, yang keluar (khuruj) bersama mereka dalam rangka mengingkari (kebatilan mereka) dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj, semata ikut dengan mereka maka tidak boleh”.

2. Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata : “Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (atas pengecualian beliau tentang bolehnya khuruj bersama Jamaah Tabligh untuk mengingkari
kebatilan mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, pen), karena jika mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari ahlul ilmi maka tidak akan ada rasa keberatan untuk khuruj bersama mereka. Namun
kenyataannya, mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau rujuk dari kebatilan mereka, dikarenakan kuatnya fanatisme mereka dan kuatnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Jika mereka benar-benar
menerima nasehat dari ulama, niscaya mereka telah tinggalkan manhaj mereka yang batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid dan ahlus sunnah. Nah, jika demikian permasalahannya, maka tidak boleh keluar (khuruj) bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yang berdiri di atas Al Qur¡¦an dan As Sunnah dalam hal tahdzir (peringatan) terhadap ahlul bid¡¦ah dan peringatan untuk tidak bergaul serta duduk bersama mereka. Yang demikian itu (tidak bolehnya khuruj bersama mereka secara mutlak, pen), dikarenakan termasuk memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dalam menyebarkan kesesatan. Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, serta sebagai
bentuk partisipasi bersama mereka dalam hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka saling berbai¡¦at di atas empat tarekat sufi yang padanya terdapat keyakinan hulul, wihdatul wujud, kesyirikan dan
kebid’ahan”.

3. Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata : “Bahwasanya organisasi ini (Jamaah Tabligh, pen) tidak ada kebaikan padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid¡¦ah
dan sesat. Dengan membaca buku-buku mereka, maka benar-benar kami dapati kesesatan, bid¡¦ah, ajakan kepada peribadatan terhadap kubur-kubur dan kesyirikan, sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Oleh karena
itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan kebatilannya”.

4. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata : “Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta pemahaman as-salafus shalih.” Beliau juga berkata : “Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah sufi modern yang semata-mata berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat, maka sedikit pun tidak mereka lakukan, karena -menurut mereka- bisa menyebabkan perpecahan”. Beliau
juga berkata : “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip keilmuan, yang mana mereka adalah orang-orang yang selalu berubah-ubah dengan perubahan yang luar biasa, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada”.

5. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq ‘Afifi berkata : “Kenyataannya mereka adalah ahlul bid’ah yang menyimpang dan orang-orang tarekat Qadiriyyah dan yang lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah,
akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi kepada Muhammad Ilyas, syaikh mereka di Bangladesh (maksudnya India, pen)”.

Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh, semoga sebagai nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran. Wallahul Muwaffiq wal Hadi Ila Aqwamith Thariq.

Untuk Apa Kita Diciptakan?

Juli 29, 2008

Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An Nawawi

Kehidupan di dunia pada dasarnya hanyalah senda gurau atau main-main saja. Orang akan semakin merugi bila tidak tahu untuk apa ia diciptakan Allah dan menjalani kehidupan di dunia ini.
Kalau kita melihat besarnya kekuasaan Allah, niscaya kita akan segera mengucapkan “Allahu Akbar”, “Subhanallah”. Allah menciptakan langit tanpa tiang serta semua bintang yang menghiasinya dan Allah turunkan darinya air hujan dan tumbuh dengannya segala jenis tumbuh-tumbuhan. Bumi terhampar sangat luas, segala jenis makhluk bertempat tinggal di atasnya, berbagai kenikmatan dikandungnya dan setiap orang dengan mudah bepergian ke mana yang dia inginkan.

Binatang ada dengan berbagai jenis, bentuk, dan warnanya. Tumbuh-tumbuhan dengan segala jenisnya dan buah-buahan dengan segala rasa dan warnanya. Laut yang sangat luas dan segala rizki yang ada di dalamnya semuanya mengingatkan kita kepada kebesaran Allah dan ke-Mahaagungan-Nya.

Kita meyakini bahwa Allah menciptakan semuanya itu memiliki tujuan dan tidak sia-sia. Maka dari itu mari kita berlaku jujur pada diri kita dan di hadapan Allah yaitu tentu bahwa kita juga diciptakan oleh Allah tidak sia-sia, dalam arti kita diciptakan memiliki tujuan tertentu yang mungkin berbeda dengan yang lain. Allah berfirman:

“Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al Mu’minun: 115)

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al Qiyamah: 36)

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah.” (Shad: 27)

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Ad Dukhan: 38)

Dari ayat-ayat di atas sungguh sangat jelas bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini dan yang ada di langit serta apa yang ada di antara keduanya tidak ada yang sia-sia. Lalu untuk siapakah semuanya itu?

Mari kita melihat keterangan Allah di dalam Al Qur’an:

“Dialah yang telah menjadikan bumi terhampar buat kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian, karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahuinya.” (Al Baqarah: 22)

“Dia Allah yang telah menjadikan segala apa yang di bumi untuk kalian.” (Al Baqarah: 29)

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tempat menetap dan langit sebagai atap, lalu membentuk kalian, membaguskan rupa kalian serta memberi kalian rizki dari sebagian yang baik-baik yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam.” (Al Mu’min: 64)

Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (1/60) mengatakan:

“Allah mengeluarkan bagi mereka (dengan air hujan tersebut) segala macam tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang bisa kita saksikan sebagai rizki buat mereka dan binatang-binatang ternak mereka sebagaimana yang telah disebutkan di banyak tempat di dalam Al Qur’an.”

As-Sa’di mengatakan di dalam tafsir beliau hal. 30:

“Allah menciptakan segala apa yang ada di atas bumi buat kalian sebagai wujud kebaikan Allah bagi kalian dan rahmat-Nya agar kalian juga bisa mengambil manfaat darinya, bersenang-senang dan bisa menggali apa yang ada padanya. (Kemudian beliau mengatakan) dan Allah menciptakan semuanya agar manfaatnya kembali kepada kita.”

Sungguh sangat jelas bahwa semua apa yang ada di langit dan di bumi dipersiapkan untuk manusia seluruhnya. Maha Dermawan Allah terhadap hamba-Nya dan Maha Luas rahmat-Nya.

Dari keterangan di atas berarti manusia diciptakan oleh Allah dengan dipersiapkan baginya segala kenikmatan, tentu memiliki tujuan yang agung dan mulia. Lalu untuk apakah tujuan mereka diciptakan?

Tujuan Diciptakan Manusia

Manusia dengan segala nikmat yang diberikan Allah memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan makhluk yang lain. Tentu hal ini menunjukkan bahwa mereka diciptakan untuk satu tujuan yang mulia, agung, dan besar. Tujuan inilah yang telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.” (Adz Dzariat: 56)

Abdurrahman As Sa’di dalam tafsir beliau mengatakan:

“Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia dan Allah mengutus seluruh para rasul untuk menyeru menuju tujuan ini yaitu ibadah yang mencakup di dalamnya pengetahuan tentang Allah dan mencintai-Nya, bertaubat kepada-Nya, menghadap dengan segala yang dimilikinya kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya.”

Semua nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia tidak lain hanya untuk membantu mereka dalam mewujudkan tugas dan tujuan yang mulia ini.

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dalam kitab Al Qaulul Mufid (1/27) mengatakan:

“Dengan hikmah inilah manusia diberikan akal dan diutus kepada mereka para rasul dan diturunkan kepada mereka kitab-kitab, dan jika tujuan diciptakannya manusia adalah seperti tujuan diciptakannya binatang, niscaya akan hilang hikmah diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab karena yang demikian itu akan berakhir bagaikan pohon yang tumbuh lalu berkembang dan setelah itu mati.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu’ Fatawa (1/4) mengatakan:

“Maka sesungguhnya Allah menciptakan manusia untuk menyembah-Nya sebagaimana firman Allah ‘Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.’ Ibadah kepada Allah hanya dilakukan dengan cara mentaati Allah dan Rasul-Nya dan tidak dikatakan ibadah kecuali apa yang menurut syariat Allah adalah sesuatu yang wajib atau sunnah.”

Makna Ibadah

Ibadah secara bahasa artinya menghinakan diri.

Sedangkan menurut syariat, Ibnu Taimiyyah mengatakan:

“Nama dari segala yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya (yang terdiri) dari segala bentuk perbuatan dan ucapan baik yang nampak ataupun yang tidak nampak.” (Al ‘Ubudiyyah, 38)

Macam Ibadah

Dari definisi Ibnu Taimiyah di atas kita mendapatkan faidah bahwa ibadah itu ada dua bentuk yaitu ibadah yang nampak dan tidak nampak. Atau dengan istilah lain ibadah dzahiriyyah dan ibadah bathiniyyah; atau dengan istilah lain lagi ibadah badaniyyah dan ibadah qalbiyyah.

Ibadah badaniyyah atau dzahiriyyah adalah segala praktek ibadah yang dapat dilihat melalui gerakan anggota badan yang diridhai Allah dan yang dicintai-Nya seperti shalat, zakat, puasa, berhaji, berdzikir, berinfak, menyembelih, bernadzar, menolong orang yang membutuhkan dan sebagainya. Adapun ibadah bathiniyyah atau ibadah qalbiyyah adalah ibadah yang terkait dengan hati dan tidak nampak seperti takut, tawakkal, berharap, khusyu’, cinta, dan sebagainya.

Dari kedua jenis ibadah ini, yang paling banyak kaum muslimin terjebak padanya adalah yang berkaitan dengan ibadah bathiniyyah atau ibadah hati dikarenakan sedikit dari kaum muslimin yang mengetahuinya.

‘Ubudiyyah dan Tingkatannya

Telah berbicara para ulama tentang tingkatan ‘ubudiyah ini berdasarkan apa yang telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an.

Pertama, ‘ubudiyyah yang bersifat umum.

Ubudiyyah ini bisa dilakukan oleh setiap makhluk Allah yang muslim atau yang kafir. Inilah yang diistilahkan dengan ketundukan terhadap takdir dan sunnatullah. Allah berfirman:

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (Maryam: 93)

Tentu di dalam ayat ini masuk juga orang-orang kafir.

Kedua, ‘ubudiyyah ketaatan yang bersifat umum.

Ini mencakup ketundukan setiap orang terhadap syariat Allah, sebagaimana firman Allah:

“Dan hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi ini dengan rendah hati (tawadhu’).” (Al Furqan: 63)

Ketiga, ‘ubudiyyah yang khusus.

Ubudiyyah yang khusus ini adalah tingkatan para Nabi dan Rasul Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nabi Nuh:

“Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” (Al Isra’: 3)

Kemudian Allah berfirman tentang Rasulullah:

“Dan jika kalian ragu-ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami” (Al Baqarah: 23)

Dan Allah berfirman tentang seluruh para rasul:

“Dan ingatlah akan hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang memiliki perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)

Ini merupakan ‘ubudiyyahnya para rasul yang tidak ada seorangpun akan bisa mencapainya. (Al Qaulul Mufid, 1/36)

Syarat Diterimanya Ibadah

Tentu sebagai orang yang dikenai beban syariat tidak menginginkan jikalau ibadah, pengabdian, dan pengorbanan kita tidak bernilai di hadapan Allah. Telah sepakat para ulama Ahlus Sunnah bahwa sebuah ibadah akan diterima oleh Allah dengan dua syarat, yaitu “mengikhlaskan niat semata-mata untuk Allah” dan “mengikuti sunnah Rasulullah.”

Kedua syarat ini merupakan makna dari dua kalimat syahadat “Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah.” Kesepakatan Ahlus Sunnah dengan kedua syarat ini dilandasi Al Qur’an dan hadits, di antaranya adalah firman Allah:

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.” (Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya amal itu sah dengan niat dan seseorang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan dan bukan dari perintahku maka amalannya tertolak.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

Pemeliharaan Prediktif

Juli 28, 2008

Dewasa ini, pola pemeliharaan prediktif dianggap lebih efektif dan efisien karena pemeliharaan dilakukan berdasarkan hasil pengamatan (monitoring) dan analisa untuk menentukan kondisi dan kapan pemeliharaan akan dilaksanakan, berbeda dengan pola pemeliharaan yang lain seperti pada pola pemeliharaan time base maintenance. Pada pola pemeliharaan time base maintenance, pemeliharaan dilakukan hanya berdasarkan pada jam operasi peralatan/komponen tanpa mempertimbangkan apakah peralatan tersebut masih baik atau tidak.
Pengembangan pola pemeliharaan prediktif, memanfaatkan berbagai peralatan test, peralatan monitoring yang telah dimiliki dan mengikuti berbagai metoda analisis yang dapat diterapkan dalam meningkatkan kualitas pemeliharaan maupun keandalan operasi pembangkit serta efektifitas dalam penggunaan biaya pemeliharaan itu sendiri.

Metode pelaksanaan pemeliharaan prediktif
1. Pemilihan Peralatan
Tidak perlu seluruh peralatan mesin dipelihara secara prediktif, tetapi langkah yang lebih baik adalah memilih peralatan-peralatan yang kritis atau mahal, juga dipengaruhi oleh fungsi dan kondisi spesifik suatu peralatan misalnya : piston, turbocharger, governor, jacket water pump, generator, compressor dll.
2. Pengumpulan Data Sejarah Mesin
Riwayat mesin dapat dipakai sebagai pendekatan teknik pemantauan dan analisa pemeliharaan. Data/informasi tersebut dapat berupa : data desain, data sejarah mesin dan data sejarah operasi mesin lain yang sejenis (jika ada).
3. Pemasangan Alat-alat Sensor
Pemasangan alat-alat sensor pada bagian-bagian tertentu untuk dapat memantau kondisi peralatan sangat diperlukan. Pemantauan itu meliputi : vibrasi, temperatur, tekanan, laju aliran, korosi dan lain sebagainya.
4. Pemantauan Rutin
Pemantauan dilaksanakan ketika unit sedang beroperasi atau unit sedang stop, tergantung pada objek yang akan dipantau.

Teknik pemantauan dan analisa pemeliharaan prediktif
1. Vibrasi
Digunakan untuk pemantauan dan analisa sifat-sifat getaran mesin untuk mencari sumber-sumber penyebab vibrasi yang dapat menyebabkan kerusakan. Alat ukur yang dipakai adalah : Vibration meter, Vibration monitor dan Vibration analyzer, yang dipasang permanen atau portable, dapat dipasang pada bagian mesin yang diperkirakan sensitif terhadap vibrasi seperti : rumah bearing, motor listrik, pompa dan lain-lain. Untuk mendapatkan hasil pengukuran dan analisa vibrasi yang optimal, dapat dilakukan pada suatu beban tertentu atau minimal pada beban : 60 %, 75 % dan 90 %. Untuk beban 100 % bisa dilakukan jika dianggap perlu. Grafik data bisa digabung dengan parameter lain seperti : temperatur minyak pelumas bearing dan tekanan minyak pelumas bearing.
2. Kualitas Air Pendingin
Pemantauan dilaksanakan pada saat operasi dengan memantau temperatur air pendingin masuk dan keluar mesin, memantau peralatan-peralatan sirkulasi air pendingin seperti bekerjanya pompa-pompa air, radiator, jacket water tank, bekerjanya termostat, water softener dan lain-lain. Sedangkan secara periodik dilakukan pemeriksaan kualitas dan sifat kimia air pendingin di laboratorium seperti : deposit (endapan), pH, senyawa kimia (Na, SiO2 dll), laju korosi dan lain-lain. Dengan adanya analisa kualitas air pendingin, maka dapat diketahui apakah diperlukan water treatment khusus atau tidak.
3. Thermografi
Pemantauan dilakukan untuk mencari lokasi sumber panas yang tidak normal dengan menggunakan termometer (manual atau digital), thermocouple, radiasi infra merah (infrared temperature). Ketidaknormalan disebabkan : isolasi yang tidak baik, kurangnya pelumasan, kebocoran, korosi, keausan bearing, beban lebih dan panas berlebih. Objek yang diamati dan dimonitor seperti : generator, cylinder head, motor listrik, pompa, rumah bearing.
4. Tribologi
Fokus pelaksanaannya adalah mengamati dan menganalisa minyak pelumas. Untuk kondisi harian, analisa minyak pelumas dapat dimonitoring dari kondisi seperti : laju aliran minyak pelumas, suhu, tekanan dan sebagainya. Sedangkan secara periodik adalah hasil analisa dari laboratorium seperti : viskositas, kadar air, TAN, TBN, titik nyala, titik beku, warna, sediment dan lain-lain. Dari hasil analisa, maka dapat ditentukan kapan penggantian atau treatment minyak pelumas dilakukan.
Standard-standard yang dipakai adalah :
 Ketentuan pabrik pembuat
 Data sejarah / riwayat mesin yang sejenis
 Data komisioning test pada awal operasi
 SPLN

Komponen-komponen yang dapat dilakukan pemeliharaan prediktif
Sesuai dengan fungsi dan tujuan pemeliharaan prediktif adalah pemeliharaan dilakukan berdasarkan kondisi, bukan berdasarkan jam operasi seperti yang dilakukan pada time base maintenance, dimana pemeliharaan atau penggantian spare parts dilakukan apabila sudah tercapai jam kerja tertentu (sesuai dengan petunjuk instruction manual dari pabrik) tanpa melihat kondisi material masih dalam kondisi baik atau tidak.
Dengan pemeliharaan prediktif hal tersebut dapat dihilangkan, penggantian atau pemeliharaan akan dilaksanakan apabila hasil dari prediksi, analisa, monitoring dan pengujian material/spare parts kondisinya sudah diluar standard, tetapi apabila masih kondisi baik, material/komponen itu masih layak dipertahankan. Sehingga dari sisi biaya, peningkatan produktifitas dan efisiensi, jelas pola ini lebih menguntungkan. Tetapi tidak semua komponen mesin dilakukan Pemeliharaan Prediktif, umumnya hanya dilakukan untuk material yang sifatnya vital dan kritis.
Pemeliharaan seperti time base maintenance dimana jika tercapai jam kerja mis : SO pada 12.000 jam seluruh spare parts (instruksi pabrikan) harus diganti tanpa melihat kondisi. Sifatnya hanya menguntungkan kelompok tertentu seperti pabrikan. Paradigma ini seharusnya dihilangkan, jika perusahaan ingin lebih baik.
Pemeliharaan prediktif mengutamakan pencapaian efiisiensi, tetapi dalam penerapannya pemeliharaan perdiktif dapat diterapkan jika peralatan tersebut jam operasi peralatan masih dalam petunjuk pabrikan, jika sudah memenuhi jam operasi maka peralatan tersebut harus diganti, karena telah dilakukan test oleh pabrikan. Jika hal ini tidak dilakukan dikwatirkan kerusakan yang lebih parah akan terjadi dan kerugian lebih besar.
Oleh sebab itu maka tidak seluruh peralatan dilakukan pemeliharaan prediktif, ada kalanya suatu komponen sebaiknya diganti saja berdasarkan jam operasi. Jika dilakukan pemeliharaan prediktif malah merugikan seperti : penggantian lube oil filter pada 500 jam operasi, walaupun pada saat pemeriksaan ditemukan masih baik namun sebaiknya diganti saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Untuk peralatan-peralatan yang vital dan kritis dengan memanfaatkan analisa, pengukuran dan uji laboratorium yang optimal dan dapat dipertanggungjawabkan, kondisi peralatan masih bisa dipertahankan tanpa harus selalu merujuk ke instruksi pabrikan. Karena pada prinsipnya kita lebih mengerti kondisi dan pengaruhnya selama operasi mesin tersebut tanpa mengacuhkan instruction manualnya.

Beban pengujian
Berbeda dengan pembangkit non thermal seperti PLTA. Untuk pembangkit termal seperti PLTD, pemeliharaan prediktif umumnya dilaksanakan (juga sesuai instruksi pabrikan) sampai dengan beban 85 % atau 90 %. Pada beban 100 % jarang dilaksanakan mengingat beberapa faktor seperti : umur mesin. Jika dilakukan pada beban 100 % dikhawatirkan performa mesin malah menurun mengingat dengan bertambahnya umur mesin performa setiap peralatan sudah tidak sama lagi seperti mesin tersebut dalam kondisi baru.
Namun, jika diinginkan monitoring, evaluasi dan pengujian pada beban 100 % bisa dilaksanakan namun disarankan beberapa menit saja (mis : 15 menit) untuk mengetahui performa peralatan.

Keuntungan dan kerugian prediktif maintenance :
Keuntungan prediktif maintenance :
1. Prediksi kondisi komponen mesin dapat diketahui lebih dini, sehingga rencana pemeliharaan lebih efektif.
2. Umur asset/material dapat diketahui dari prediksi kondisi material sehingga persiapan pemeliharaan, perencanaan dan pengadaan material terencana dengan baik.
3. Dengan prediktif maintenance, produktivitas pembangkit lebih optimal karena tidak adanya “Down Time” akibat gangguan yang berarti.
4. Efisiensi, unjuk kerja dan pelayanan lebih optimal.
5. Keselamatan pengguna pembangkit lebih terjamin

Kerugian prediktif maintenance :
Pada hakekatnya kerugian dari sisi pelaksanaan tidak ada, hanya memerlukan biaya tambahan misalnya : untuk pengadaan peralatan monitor dan sensor-sensor, tetapi biaya tidak terlalu besar jika dibandingkan bila terjadi gangguan apabila tidak menerapkan pemeliharaan prediktif misalnya : terjadi gangguan vatal terhadap komponen mesin, akibatnya biaya yang dikeluarkan sangat besar.

Pemasangan sensor-sensor tambahan.
Sebenarnya beberapa peralatan sensor seperti sensor main bearing, pada mesin-mesin besar seperti : mesin Wartsila, mesin Deutz, kapasitas 3.000 kW ke atas sudah terpasang (misalnya : Oil Mist Detector, Main Bearing Sensor Temperatur), cuma penggunaannya yang belum optimal. Padahal sensor ini sangat berguna untuk mendeteksi kejanggalan pada main bearing / crankshaft.
Kalaupun dilakukan pengadaan baru, biaya yang dikeluarkan tidak seberapa jika dibandingkan apabila terjadi gangguan akibat tidak adanya sensor tersebut. Sebagai illustrasi : Pada tahun 2001 terjadi gangguan crankshaft mesin Wartsila di PLTD Lueng Bata, akibat kegagalan/penyimpangan operasi, vibrasi dan mulfunction beberapa peralatan dan ironisnya proteksi terhadap main bearing/crank shaft tidak ada (tidak terpasang sensor main bearing khususnya sensor temperatur). Penanggualangan kerusakan ini membutuhkan waktu 7 bulan mulai dari pemeriksaan, pengadaan main bearing dan crankshaft, pemasangan sampai operasi kembali. Jika dihitung-hitung berapa biaya yang sudah keluar? Investasi awal memang diperlukan, tetapi yang harus diingat adalah manfaat dan kegunaannya.

Tidak terbatas kapasitas mesin untuk pemeliharaan prediktif, baik kapasitas kecil, sedang dan besar. Tetapi pada hakekatnya pemeliharaan ini dilakukan untuk komponen yang sifatnya vital dan kritis. Seperti : pompa-pompa, generator, turbocharger, cylinder head, crank shaft dan lain. Untuk pemeliharaan ini dibutuhkan sensor yang sudah ada dan sensor baru jika belum ada seperti : sensor-sensor temperatur, sensor tekanan, sensor vibrasi dan lain-lain.

Taushiyah

Juli 28, 2008

Meniti jalan dalam menuntut ilmu tidak semudah yang kita bayangkan. Dia bukan jalan yang penuh dengan taburan bunga, namun jalan yang penuh dengan tantangan. Kita mesti punya kesiapan dalam menghadapi ujian-ujian Allah dalam menentukan kualitas kita dihadapan-Nya. Keikhlasan dan kesabaranlah yang bisa memutuskan jalan yang mulia ini sebagaimana para ulama salaf kita.

Ringtone Ayat Dilarang

Juli 28, 2008

Bagi anda yang memiliki handphone dengan nada panggil berupa bacaan al Quran, ada baiknya anda simak berita ini. Majelis Mujamma’ al Fiqhi al Islami telah melarang menjadikan ayat al Quran sebagai ringtone yang digunakan sebagai nada dering.

Fatwa ini dikeluarkan pada Rabu 11 November 2007 dari hasil muktamar ke-19 di Makkah. Beberapa nara sumber yang berbicara diantaranya Doktor Wahbah Musthafa az Zuhaili, menyatakan bahwa al Quran adalah kalmullah yang agung. Harus dihormati dan dijaga dengan semua adab-adabnya. Menjadikan bacaan al Quran sebagai bunyi nada dering dinyatakan sebagai tindakan tidak pantas terhadap al Quran. Sebab pada saat berbunyi sangat mungkin bacaan tersebut diputus. Juga nada bacaan tersebut bisa berbunyi dimana saja, termasuk mungkin ditempat-tempat kotor, atas dasar inilah majelis memutuskan haramnya menjadikan bacaan al Quran sebagai nada dering atau nada panggil. (www.alwatan.com)

Nasihah

Juli 27, 2008

Harta paling berharga adalah “AMAL”, Teman paling setia adalah “SABAR”, Ibadah paling indah adalah “IKHLAS”, Identitas paling tinggi adalah “IMAN”, Pekerjaan paling berat adalah “MEMAAFKAN”.