Arsip untuk ‘Manajemen Pemeliharaan’ Kategori

Pemeliharaan Prediktif

Juli 28, 2008

Dewasa ini, pola pemeliharaan prediktif dianggap lebih efektif dan efisien karena pemeliharaan dilakukan berdasarkan hasil pengamatan (monitoring) dan analisa untuk menentukan kondisi dan kapan pemeliharaan akan dilaksanakan, berbeda dengan pola pemeliharaan yang lain seperti pada pola pemeliharaan time base maintenance. Pada pola pemeliharaan time base maintenance, pemeliharaan dilakukan hanya berdasarkan pada jam operasi peralatan/komponen tanpa mempertimbangkan apakah peralatan tersebut masih baik atau tidak.
Pengembangan pola pemeliharaan prediktif, memanfaatkan berbagai peralatan test, peralatan monitoring yang telah dimiliki dan mengikuti berbagai metoda analisis yang dapat diterapkan dalam meningkatkan kualitas pemeliharaan maupun keandalan operasi pembangkit serta efektifitas dalam penggunaan biaya pemeliharaan itu sendiri.

Metode pelaksanaan pemeliharaan prediktif
1. Pemilihan Peralatan
Tidak perlu seluruh peralatan mesin dipelihara secara prediktif, tetapi langkah yang lebih baik adalah memilih peralatan-peralatan yang kritis atau mahal, juga dipengaruhi oleh fungsi dan kondisi spesifik suatu peralatan misalnya : piston, turbocharger, governor, jacket water pump, generator, compressor dll.
2. Pengumpulan Data Sejarah Mesin
Riwayat mesin dapat dipakai sebagai pendekatan teknik pemantauan dan analisa pemeliharaan. Data/informasi tersebut dapat berupa : data desain, data sejarah mesin dan data sejarah operasi mesin lain yang sejenis (jika ada).
3. Pemasangan Alat-alat Sensor
Pemasangan alat-alat sensor pada bagian-bagian tertentu untuk dapat memantau kondisi peralatan sangat diperlukan. Pemantauan itu meliputi : vibrasi, temperatur, tekanan, laju aliran, korosi dan lain sebagainya.
4. Pemantauan Rutin
Pemantauan dilaksanakan ketika unit sedang beroperasi atau unit sedang stop, tergantung pada objek yang akan dipantau.

Teknik pemantauan dan analisa pemeliharaan prediktif
1. Vibrasi
Digunakan untuk pemantauan dan analisa sifat-sifat getaran mesin untuk mencari sumber-sumber penyebab vibrasi yang dapat menyebabkan kerusakan. Alat ukur yang dipakai adalah : Vibration meter, Vibration monitor dan Vibration analyzer, yang dipasang permanen atau portable, dapat dipasang pada bagian mesin yang diperkirakan sensitif terhadap vibrasi seperti : rumah bearing, motor listrik, pompa dan lain-lain. Untuk mendapatkan hasil pengukuran dan analisa vibrasi yang optimal, dapat dilakukan pada suatu beban tertentu atau minimal pada beban : 60 %, 75 % dan 90 %. Untuk beban 100 % bisa dilakukan jika dianggap perlu. Grafik data bisa digabung dengan parameter lain seperti : temperatur minyak pelumas bearing dan tekanan minyak pelumas bearing.
2. Kualitas Air Pendingin
Pemantauan dilaksanakan pada saat operasi dengan memantau temperatur air pendingin masuk dan keluar mesin, memantau peralatan-peralatan sirkulasi air pendingin seperti bekerjanya pompa-pompa air, radiator, jacket water tank, bekerjanya termostat, water softener dan lain-lain. Sedangkan secara periodik dilakukan pemeriksaan kualitas dan sifat kimia air pendingin di laboratorium seperti : deposit (endapan), pH, senyawa kimia (Na, SiO2 dll), laju korosi dan lain-lain. Dengan adanya analisa kualitas air pendingin, maka dapat diketahui apakah diperlukan water treatment khusus atau tidak.
3. Thermografi
Pemantauan dilakukan untuk mencari lokasi sumber panas yang tidak normal dengan menggunakan termometer (manual atau digital), thermocouple, radiasi infra merah (infrared temperature). Ketidaknormalan disebabkan : isolasi yang tidak baik, kurangnya pelumasan, kebocoran, korosi, keausan bearing, beban lebih dan panas berlebih. Objek yang diamati dan dimonitor seperti : generator, cylinder head, motor listrik, pompa, rumah bearing.
4. Tribologi
Fokus pelaksanaannya adalah mengamati dan menganalisa minyak pelumas. Untuk kondisi harian, analisa minyak pelumas dapat dimonitoring dari kondisi seperti : laju aliran minyak pelumas, suhu, tekanan dan sebagainya. Sedangkan secara periodik adalah hasil analisa dari laboratorium seperti : viskositas, kadar air, TAN, TBN, titik nyala, titik beku, warna, sediment dan lain-lain. Dari hasil analisa, maka dapat ditentukan kapan penggantian atau treatment minyak pelumas dilakukan.
Standard-standard yang dipakai adalah :
 Ketentuan pabrik pembuat
 Data sejarah / riwayat mesin yang sejenis
 Data komisioning test pada awal operasi
 SPLN

Komponen-komponen yang dapat dilakukan pemeliharaan prediktif
Sesuai dengan fungsi dan tujuan pemeliharaan prediktif adalah pemeliharaan dilakukan berdasarkan kondisi, bukan berdasarkan jam operasi seperti yang dilakukan pada time base maintenance, dimana pemeliharaan atau penggantian spare parts dilakukan apabila sudah tercapai jam kerja tertentu (sesuai dengan petunjuk instruction manual dari pabrik) tanpa melihat kondisi material masih dalam kondisi baik atau tidak.
Dengan pemeliharaan prediktif hal tersebut dapat dihilangkan, penggantian atau pemeliharaan akan dilaksanakan apabila hasil dari prediksi, analisa, monitoring dan pengujian material/spare parts kondisinya sudah diluar standard, tetapi apabila masih kondisi baik, material/komponen itu masih layak dipertahankan. Sehingga dari sisi biaya, peningkatan produktifitas dan efisiensi, jelas pola ini lebih menguntungkan. Tetapi tidak semua komponen mesin dilakukan Pemeliharaan Prediktif, umumnya hanya dilakukan untuk material yang sifatnya vital dan kritis.
Pemeliharaan seperti time base maintenance dimana jika tercapai jam kerja mis : SO pada 12.000 jam seluruh spare parts (instruksi pabrikan) harus diganti tanpa melihat kondisi. Sifatnya hanya menguntungkan kelompok tertentu seperti pabrikan. Paradigma ini seharusnya dihilangkan, jika perusahaan ingin lebih baik.
Pemeliharaan prediktif mengutamakan pencapaian efiisiensi, tetapi dalam penerapannya pemeliharaan perdiktif dapat diterapkan jika peralatan tersebut jam operasi peralatan masih dalam petunjuk pabrikan, jika sudah memenuhi jam operasi maka peralatan tersebut harus diganti, karena telah dilakukan test oleh pabrikan. Jika hal ini tidak dilakukan dikwatirkan kerusakan yang lebih parah akan terjadi dan kerugian lebih besar.
Oleh sebab itu maka tidak seluruh peralatan dilakukan pemeliharaan prediktif, ada kalanya suatu komponen sebaiknya diganti saja berdasarkan jam operasi. Jika dilakukan pemeliharaan prediktif malah merugikan seperti : penggantian lube oil filter pada 500 jam operasi, walaupun pada saat pemeriksaan ditemukan masih baik namun sebaiknya diganti saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Untuk peralatan-peralatan yang vital dan kritis dengan memanfaatkan analisa, pengukuran dan uji laboratorium yang optimal dan dapat dipertanggungjawabkan, kondisi peralatan masih bisa dipertahankan tanpa harus selalu merujuk ke instruksi pabrikan. Karena pada prinsipnya kita lebih mengerti kondisi dan pengaruhnya selama operasi mesin tersebut tanpa mengacuhkan instruction manualnya.

Beban pengujian
Berbeda dengan pembangkit non thermal seperti PLTA. Untuk pembangkit termal seperti PLTD, pemeliharaan prediktif umumnya dilaksanakan (juga sesuai instruksi pabrikan) sampai dengan beban 85 % atau 90 %. Pada beban 100 % jarang dilaksanakan mengingat beberapa faktor seperti : umur mesin. Jika dilakukan pada beban 100 % dikhawatirkan performa mesin malah menurun mengingat dengan bertambahnya umur mesin performa setiap peralatan sudah tidak sama lagi seperti mesin tersebut dalam kondisi baru.
Namun, jika diinginkan monitoring, evaluasi dan pengujian pada beban 100 % bisa dilaksanakan namun disarankan beberapa menit saja (mis : 15 menit) untuk mengetahui performa peralatan.

Keuntungan dan kerugian prediktif maintenance :
Keuntungan prediktif maintenance :
1. Prediksi kondisi komponen mesin dapat diketahui lebih dini, sehingga rencana pemeliharaan lebih efektif.
2. Umur asset/material dapat diketahui dari prediksi kondisi material sehingga persiapan pemeliharaan, perencanaan dan pengadaan material terencana dengan baik.
3. Dengan prediktif maintenance, produktivitas pembangkit lebih optimal karena tidak adanya “Down Time” akibat gangguan yang berarti.
4. Efisiensi, unjuk kerja dan pelayanan lebih optimal.
5. Keselamatan pengguna pembangkit lebih terjamin

Kerugian prediktif maintenance :
Pada hakekatnya kerugian dari sisi pelaksanaan tidak ada, hanya memerlukan biaya tambahan misalnya : untuk pengadaan peralatan monitor dan sensor-sensor, tetapi biaya tidak terlalu besar jika dibandingkan bila terjadi gangguan apabila tidak menerapkan pemeliharaan prediktif misalnya : terjadi gangguan vatal terhadap komponen mesin, akibatnya biaya yang dikeluarkan sangat besar.

Pemasangan sensor-sensor tambahan.
Sebenarnya beberapa peralatan sensor seperti sensor main bearing, pada mesin-mesin besar seperti : mesin Wartsila, mesin Deutz, kapasitas 3.000 kW ke atas sudah terpasang (misalnya : Oil Mist Detector, Main Bearing Sensor Temperatur), cuma penggunaannya yang belum optimal. Padahal sensor ini sangat berguna untuk mendeteksi kejanggalan pada main bearing / crankshaft.
Kalaupun dilakukan pengadaan baru, biaya yang dikeluarkan tidak seberapa jika dibandingkan apabila terjadi gangguan akibat tidak adanya sensor tersebut. Sebagai illustrasi : Pada tahun 2001 terjadi gangguan crankshaft mesin Wartsila di PLTD Lueng Bata, akibat kegagalan/penyimpangan operasi, vibrasi dan mulfunction beberapa peralatan dan ironisnya proteksi terhadap main bearing/crank shaft tidak ada (tidak terpasang sensor main bearing khususnya sensor temperatur). Penanggualangan kerusakan ini membutuhkan waktu 7 bulan mulai dari pemeriksaan, pengadaan main bearing dan crankshaft, pemasangan sampai operasi kembali. Jika dihitung-hitung berapa biaya yang sudah keluar? Investasi awal memang diperlukan, tetapi yang harus diingat adalah manfaat dan kegunaannya.

Tidak terbatas kapasitas mesin untuk pemeliharaan prediktif, baik kapasitas kecil, sedang dan besar. Tetapi pada hakekatnya pemeliharaan ini dilakukan untuk komponen yang sifatnya vital dan kritis. Seperti : pompa-pompa, generator, turbocharger, cylinder head, crank shaft dan lain. Untuk pemeliharaan ini dibutuhkan sensor yang sudah ada dan sensor baru jika belum ada seperti : sensor-sensor temperatur, sensor tekanan, sensor vibrasi dan lain-lain.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.